Abdul Raheem Green: Ku Menemukan Tujuan Hidup dalam Islam
REPUBLIKA.CO.ID, ‘’Apa tujuan hidup di dunia ini?’’
Pertanyaan yang terus berkecamuk dalam hati Abdul Raheem Green itu
telah mengantarkannya pada sebuah pencarian spiritual. Bagi sebagian
orang, manusia hidup untuk menjadi kaya. Namun, Green tahu itu bukanlah
jawaban yang sebenarnya.
‘’Benarkah menjadi kaya akan membuat seorang bahagia?’’ tanyanya dalam hati.
Ternyata kekayaan tak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Banyak orang
kaya di dunia ini, tapi mereka tak merasakan kebahagiaan. Tak mudah
bagi Green untuk menemukan jawaban tentang tujuan hidup di dunia ini.
Ia mencari jawaban atas pertanyaannya melalui jalur spiritual. Ia
sempat berganti-ganti agama untuk mendapatkan jawabannya. Namun,
beberapa agama yang sempat disinggahinya tak mampu memberikan jawaban.
Di akhir pencariaannya, ia berkenalan dengan Islam.
Hati Green
pun terpikat kepada Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu mampu
memberinya jawaban atas pertanyaan yang selalu mengusik kehidupannya.
Lantas bagaimanakah Islam menjawab pertanyaan seorang pria bernama
Green?
Green terlahir dalam sebuah keluarga yang menganut
Katholik Roma. Keluarganya sangat patuh terhadap ajaran agama. Ayahnya
seorang tentara dan ibunya adalah seorang polisi di salah satu kota di
Inggris.
Kedua orangtuanya bersepakat untuk membesarkan buah
hatinya dengan agama nilai-nilai agama. Mereka memasukkan Green ke
sekolah asrama Katholik. Sekolah asrama itu cukup terkenal di Inggris.
Green pun cukup senang belajar di sekolah tersebut.
Selain
menimba pelajaran umum, Green dan murid-murid lainnya harus mengikuti
pelajaran, agama seperti membaca Alkitab dan sejarah-sejarah Kristen.
Awalnya, tidak ada masalah yang berarti bagi Green ketika belajar di
sekolah asrama Katholik itu. Semua mulai berubah, ketika ia berpikir
tentang Tuhannya, Yesus.
Green berpendapat sosok Tuhan tidak
mungkin bisa mati. Ia juga berpikir bagaimana mungkin seorang Tuhan
memiliki seorang ibu. “Kalau Tuhan memiliki ibu, maka ibunya adalah
Tuhan dari Tuhan,” pikirnya. Hal ini mengganjal terus hingga ia dewasa.
Ia tidak dapat menerima kenyataan itu. Lalu, Green berusaha mencari
tahu mengapa Tuhan memiliki seorang ibu. Akan tetapi, ia tidak menemukan
jawaban atas pertanyaannya itu. Orang-orang yang ia tanya tidak dapat
menjawabnya.
Mereka hanya meminta Green untuk mempercayai dan
mendengarkan apa yang diajarkan padanya. Namun, rasa ingin tahunya lebih
besar daripada rasa takutnya. Green tidak mau menyerah. ‘’Apabila orang
lain tidak dapat menjawabnya, maka aku akan mencari sendiri
jawabannya,’’ ujar Green.
Ketika usianya semakin beranjak
dewasa, pertanyaan lain muncul dalam hidupnya. ‘’Apakah yang menjadi
tujuan dalam hidup ini? Apakah hidup itu hanya seperti memiliki
pekerjaan bagus, hidup yang normal dan indah serta uang yang banyak?
Apakah kehidupan itu seperti itu? Lalu bagaimana dengan kematian?’’
Ia amat yakin sekali bahwa kehidupan yang dijalaninya tak semata untuk
mengumpulkan uang, memiliki keluarga, dan menjalani kehidupan monoton
sepertu yang banyak dilakukan orang sekarang. Green meyakini ada sesuatu
yang lebih dari itu.
Karena tidak menemukan jawabannya dalam
Katolik yang dianutnya sejak lahir, Green mencoba mencarinya dalam agama
Buddha. Ia mencari tentang kehidupan di agama Shidarta Gautama itu.
Green mempelajari banyak hal dalam Buddha. Meskipun banyak orang
menganggap Buddha bukanlah sebuah agama, ia menemukan banyak nilai-nilai
positif di dalamnya. Akan tetapi ia tidak menemukan adanya Tuhan dalam
agama tersebut. “Meski begitu, saya tetap mempercayai adanya Tuhan,
karena saya tahu Dia ada,” kata Green.
Buddha mengajarkan bahwa
hidup itu adalah penderitaan. Manusia harus mencari jalan keluar
sendiri untuk melepaskan diri dari penderitaan dan mencapai nirwana.
Green merasa hal ini tidaklah sesuai dengan hatinya. Memang, ia
menemukan banyak ajaran-ajaran baik dalam Buddha.
Tapi kalau
hidup yang penuh penderitaan? Green harus berpikir ulang. Ajaran Buddha
tidak lagi membuat perasaannya tenang dan Green tidak menemukan jawaban
dari pertanyaan fundamentalnya: ‘’Mengapa manusia ada di bumi?’’
Tak puas dengan apa yang ia dapatkan di ajaran agama lain, Green sempat
memutuskan untuk membuat agamanya sendiri. Ia mengombinasikan
agama-agama dan filosofi yang ia pelajari selama ini menjadi satu dan
membuatnya menjadi ‘agama Green’.
“Dan masa-masa itu menjadi pengalaman spiritual terburuk dalam hidup saya,” kenangnya.
Karena tidak menemukan kebenaran juga, Green mulai berpikir mungkin
memang tidak ada agama yang benar di dunia ini. Mungkin semuanya memang
seperti ini adanya dan ia harus menerima itu. Barangkali di dunia ini
tidak ada jawaban yang dapat membuatnya paham mengenai apa yang harus
manusia lakukan di dunia dan apa tujuan manusia dilahirkan.
Sempat ia hampir menerima kenyataan bahwa tujuan dalam hidup ini
hanyalah mencari uang dan menumpuk kekayaan. Masalahnya, Green bukanlah
kaya dan dia belum cukup kaya untuk mencapai ‘tujuan hidup’ yang ia
maksud. Ia harus banyak belajar dari orang-orang yang bisa menghasilkan
banyak uang.
Ia mengetahui orang Arab sangatlah kaya karena
minyak yang dihasilkannya. “Mereka tinggal mengatakan Allahuakbar, lalu
uang muncul di depan mereka. Semudah itu,” kata dia.
Terpikir
pula olehnya agama yang dianut orang-orang Arab, yakni Islam. Agama ini
belum pernah disentuh Green sebelumnya. Karena penasaran, akhirnya Green
mempelajari terlebih dahulu agama yang berasal dari Timur Tengah ini,
sebelum ia memutuskan untuk menjadi kaya.
Green membeli sebuah
terjemahan Alquran di toko buku dan membacanya. Green membacanya
berkali-kali dan menemukan ada yang tidak biasa dalam buku tersebut.
Green merasa buku ini tidak ditulis oleh sembarang orang. Dari situ
Green mulai mempelajari tentang Islam.
Perlahan-lahan ia mulai
menyadari bahwa Islam adalah agama yang menjawab semua pertanyaannya.
Islam memberinya pedoman dalam kehidupan dan memberikan cahaya pada
setiap jalan yang ia tempuh.
Islam juga menjawab pertanyaan
Green mengenai Tuhan. Tuhan adalah satu dan ia tidak memiliki ibu juga
tidak mati. Tuhan adalah pencipta seluruh alam dan melalui para nabi
Tuhan menyampaikan apa yang perlu manusia lakukan di dunia dan apa yang
tidak boleh mereka lakukan.
“Saya menyadari buku ini berasal
dari Tuhan. Dia telah memberikan jawaban atas pertanyaan saya selama
ini.” Ia juga menemukan jawaban atas tujuan hidup di dunia ini, yakni
untuk beribadah dan menyembang Sang Khalik, demi mendapat kehidupan yang
abadi di Hari Akhir.
Kini, Green berkhidmat dalam Islam. Ia mempelajari Islam dan menyebarkannya. Dakwah adalah jalan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar